Wangi Melati

Monday, April 17, 2017

For being a Leader

Aku berterimakasih kepada para pemilih rahasia
yang mencalonkanku menjadi Leader
Ada sedikit rasa bangga karena dinilai lebih

Namun saat ini, aku sudah cukup repot dengan menjadi presidium Forhati
aku lebih ingin mendorong siapapun untuk percaya diri memimpin
dan untuk itu, aku komitmen untuk membantu mu
Proses mencapai pucuk pimpinan itu
ataupun menjaga keseimbangan hingga amanah itu selesai

Negeri ini sudah cukup sakit
Cukup parah krisis kepemipinan
amat butuh pemimpin yang teruji dan loyal kepada ummat

jika kau berminat.
Sini aku bantu...
Kita saling membesarkan
Kita saling menguatkan

dalam sabar
dan kebenaran


Friday, February 19, 2016

Orange Stories: Welcome to Forhati Sumut Pera!

Alhamdulillah....
Dengan perjuangan yang seru, bertemu bersatu padu dengan teman-teman luar biasa
akhirnya Aku terpilih menjadi salah satu presidium Forhati Majelis Wilayah Sumatera Utara.
Hal yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Bahkan pun sesungguhnya lembaga (forhati) ini hendak kutinggalkan dan cukup sampai di sini saja. Karena sudah 15 tahun berkecimpung di Kahmi Medan maupun Sumut, kadang ingin menyerah karena beratnya melakukan perubahan.

Awalnya niatku hanya menjadi salah satu presidium Forhati di Medan. Regenerasi yang wajar dalam kepungurasn karena telah satu periodesasi berkiprah di bidang kesekretariatannya.
Awalnya Niat setengah hati yang dipenuh-penuhkan dan alhamdulillah makin menguat di hari pemilihan.
Banyak hal yang tak terduga, lucu, marah, letih, terluka lalu bangkit lagi, terjadi begitu cepat.

Aku kalah telak untuk sebuah amanah yang lebih besar.

Kekalahanku di Forhati medan mendorong ku untuk membuktikan diri lebih tinggi.
Energi yang sudah kupenuhkan untuk terpilih di Forhati tingkat Medan, ternyata meluap, menghanyutkan teman-teman sekitarku, menjadi arus semangat yang tak bisa dibendung lagi. Jadilah kami bagai air bah.
Kemenangan di Muswil Kahmi Kisaran terjadi begitu saja. nyaris tanpa hambatan.

Ibarat 'ending' sebuah novel. Masa-masa pemenangan di Muswil Forhati Sumut adalah potongan kisah seluruh tokohnya, berpadu dan menyatu, dan membuatku...si pembaca tersenyum.puas.

Dan bertemulah kami berlima, dengan latar kisah masing-masing. Menjadi leader untuk membawa arah Forhati Sumut ke depan. berlatar profesional yang berbeda.
1. Sulfia Dewi Rambe, sang Dokter Gigi
2. Sri Ratna Lubis, Sang Guru
3. Fauziah, sang Dosen ahli Hukum
4. Rahmadani Hidayatin, sang Psikolog
5. Peranita Sagala, sang Arsitek

Diantara mereka, Aku adalah yang termuda.
Tak hanya berlima sebenarnya. Ada sahabat-sahabat dibalik seluruh perjuangan ini. Mereka-mereka yang tak perlu disebut. Namun memegang peran penting dalam setiap detik perjuangan. Mereka terukir dalam hatiku. Terimakasih kawan....terimakasih. :).
Ini kerja kita bersama. Kerja untuk cita-cita dan semangat yang sama: Saling membesarkan.

Terima kasih telah memberikan jalan bagi kami berlima sebagai presidium.

Satu warna yang kami pilih, kami sepakati sebagai simbol perjuangan kami adalah "orange".
Warna yang sama dengan kantor pos, petugas kebersihan, pemadam kebakaran.
Ya... bisa jadi kami seperti pegawai kantor pos, penyampai pesan-pesan peradaban.
Ya..bisa jadi kami petugas kebersihan...pembersih peradaban.
Ya...bisa jadi kami petugas pemadam kebakaran...pemadam angkara.

Biarlah, terserah orang menerjemahkan apa. Kami hanya ingin tampak lebih muda, lebih ceria, lebih semangat, terlihat dan meng"Ada". Seperti itulah gambaran Forhati Sumut ke depan.


***
Dan Kau Kohatiku....
tentu akan lebih kurawat lagi

tak kan kubiarkan kandas dan diinjak-injak

Rumah mungil yang telah membesarkan ku ini
telah mengantarkanku mengenal diriku sendiri

seperti itulah rumah Kohati masa depan yang ingin kusirami
Rumah bagi penemuan jati diri :)


Tuesday, November 03, 2015

MUSDA FORHATI Medan




Link:
1. Pendaftaran Balon Kandidat Presidium Forhati Medan periode 2015-2020 klik disini
2. Pendaftaran Anggota/Pengurus Forhati Medan klik disini



Wednesday, September 16, 2015

Jejak langkahku ber-Kohati : Rumah yang nyaman untuk belajar

Entah kenapa Milad Kohati kali ini mengingatkan bagaimana memori awal ketika aku memasuki rumah yang khusus untuk kaum perempuan HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) ini. Mungkin karena beberapa keinginan kawan-kawan alumni yang untuk menuliskan sejarahnya ber-Kohati, mungkin juga terakumulasi sebuah mimpi tahun lalu dimana aku berharap Kohati HMI Komisariat Fakultas Teknik USU kembali berkibar dikampusnya. 

Aku berproses di Kohati diawali oleh ketidaksengajaan. Memasuki organisasi ini tentu harus memasuki HMI terlebih dahulu. Aku ingat tahun itu, 1999, setelah dua tahun menjadi mahasiswa di Arsitektur Universitas Sumatera Utara (USU) aku baru memasuki langkah pertama ber-HMI. Dimasa itu Kohati FT-USU justru bersiap-siap menghapus jejaknya di Fakultas Teknik USU. Istilah yang digunakan kawan-kawan saat itu mengintegralkan Kohati, Istilah dalam Pedoman Dasar Kohati saat ini: Pembekuan Kohati. Tak perduli sebenarnya aku terhadap penting tidaknya Kohati saat itu. Bagiku, aku ingin berbuat sesuatu. Memanfaatkan masa muda dengan aktifitas positif apapun yang bisa ku lakukan. 

Mengukur jejakku hingga hari ini, kau akan terkejut bagaimana seorang Pera di masa awal ber-HMI. Seorang yang pendiam, kaku dan penggugup, bukanlah orang yang dominan. Lebih suka mengamati, dan menunggu saat yang tepat untuk muncul. Itu pun tetap menunggu sampai didorong untuk bicara. Meskipun Aku benci menyerah pada keadaan, namun terlalu khawatir untuk mencetuskan ide. Aku lebih suka bertindak sendiri, tidak komunikatif sama sekali. Maka memanglah seorang Pera adalah single fighter. Dan seringkali lebih nyaman begitu.

Pertama kali aku digembleng di Kohati Komisaria FT-USU. Bingung sebenarnya saat itu, karena setahuku aku masuk perkaderan HMI bukan Kohati, tapi para pengurus saat itu langsung menempatkanku di Kohati. Mungkin karena aku perempuan, (atau saat itu tidak boleh memilih?). 
Tugas pertamaku pasca disematkan menjadi anggota HMI/Kohati adalah menjadi sekretaris panitia Anjangsana (Bakti Sosial). Merupakan proyek kerja besar Kohati FT-USU yang terakhir sebelum ajalnya tutup usia di bumi Teknik USU. Tahun itu, masih 1999. Kepanitian berjalan seminggu menjelang ujian semester sehingga hampir tak ada yang meluangkan waktu dalam hal-hal teknis, lebih memilih berlajar dan kumpulkan tugas. Namun Alhamdulillah, ketika hari H, semua berjalan dengan menantang. Aku dilatih mengambil keputusan penting disaat genting. Pemanasan awal, yang kemudian menjadi pengalaman berharga bagiku hingga saat ini. 

Kohati komisariat FT-USU lenyap tahun itu. Dirayakan dengan masuknya HMI-wati diposisi empat  staf ketua di HMI komisariat periodesasi 1999-2000. Sepertinya saat itu, kawan-kawan terlihat lega dan bangga sekali. Entah kenapa. Aku tak mengerti, dan malas untuk mencari tau. Terhapus dengan suasana ber-HMI yang begitu hangat, seperti rumah. Tiada hari tanpa duduk di Musholla Teknik, berdiskusi apa saja. Pulang kuliah pun masih menyempatkan berjalan beriring ke sekretariat, rapat harian dulu baru pulang kerumah masing-masing. Hari liburpun masih terpanggil. Begitu menyenangkan, dan aku penasaran untuk meneruskan ke jenjang berikutnya. Bagaimana rasanya di tingatan cabang, badko, bahkan PB. Cita-citaku sampai tingkat nasional mulai tumbuh disini.

Tapi berharap ke cabang bukan persoalan yang mudah. HMI Cabang Medan masa itu, memiliki 30-an komisariat. Masing-masing komisariat mengirim satu saja kadernya untuk kepengurusan, maka jajaran pengurusnya sudah cukup gemuk. Dengan posisi wakil bendahara di Komisariat, sepertinya aku harus tau diri, mengalah dengan kawan-kawan di struktural yang lebih tinggi dan lebih berprestasi. 

Ternyata, keinginanku yang belum sempat terucapkan itu disambut oleh Tengku Nurzehan. Ketua umum Kohati Cabang Medan termuda  baru saja terpilih dan sedang menyusun kepengurusan. Saat itu, dia sedang berkunjung ke sekretariat teknik untuk menyampaikan up grading. Sepertinya memang kami jodoh ya... :D
Sudah digariskan untuk bertemu di Kohati. Zehan lah pintu masukku ke cabang Medan.

Meski demikian, perjalananku masuk ke Kohati tidak mulus begitu saja. Hamka Lubis, Ketua umum komisariat masa itu justru satu-satunya orang yang tidak setuju dan tak mau merekomendasikanku. Aku diam shock saat itu. Jalan pemikirannya yang menyebalkan itu dijelaskannya esok harinya sambil menikmati pecal bibi yang nongkrong di depan Musholla. Hampir kumaklumi andai saja, siang itu, tidak ada Yuli (ketua bidangku) dan Bang Roni Harianja yang tak sengaja juga ikut mendengarkan, mungkin tak pernah ada seorang Peranita Sagala yang pernah menjabat menjadi Ketua umum Kohati Badko HMI Sumut 2004-2006, Kandidat Ketum Kohati PB di Kongres tahun 2006. Hamka "ditempeleng" dengan rentetan nasehat di siang bolong. "Orang mau belajar, jangan dilarang", katanya. Hamka terdiam dan tak berani lagi berargumen.  Suatu hari, setelah moment itu aku bertemu lagi setelah sekian tahun tak bertemu dengan sang senior itu. Sama sekali dia tidak menyadari, jasanya terhadap ku. Tapi tak pernah kulupakan siang itu. Awal aku memilih berproses di Kohati. Sebuah organisasi sayap HMI yang memberi ruang bagi orang-orang yang mau belajar.

Kohati, didalamnya tak begitu bergengsi seperti gengsi duduk di struktural HMI setingkat. Khusus pada issu keperempuanan, sehingga tak begitu menarik dalam perpolitikan daerah yang patriarkhinya sangat kental. Karenanya persaingan didalamnya masih begitu longgar. Karena itu pula aku dapat bernafas melakukan banyak hal di Kohati.

Pelan-pelan aku belajar didalamnya. Kelemahan-kelemahan organisasinya justru membuatku merasa diberi peluang untuk berbuat banyak. Kohati masa itu mungkin hanya organisasi kelas dua, organisasi kecil yang tak dianggap berpengaruh. Pikirku, karena itulah aku berpeluang untuk membesarkannya, untuk memperbaikinya. Sok heroik ya?. Pada dasarnya Aku  ingin menjadi besar karena membesarkan Kohati. Bukan besar karena masuk di organisasi yang besar. 

Sekarang, aksi sok heroik ku itu entah sudah sampai mana dalam kacamata HMI dan ummat. Apakah Kohati sudah besar?. Sulit mengukurnya secara kualitatif. Tapi apapun hasilnya, pribadiku sangat banyak "berutang budi" dari proses-proses di Kohati. 

Belajar...tertawa (kau pasti herankan? dulu memang aku sulit rileks menghadapi masalah). 
Berteman dengan banyak lapisan, berbagai latar belakang pendidikan. 
Berteman dengan teman-teman di banyak daerah. Belajar berani. Aku tak khawatir kemanapun saat jadi pengurus Kohati, bahkan ketika menembus Aceh dimasa DOM (Daerah Operasi Militer) baru saja reda. 
Belajar menjalani berbagai konflik, ketika  Zehan dengan tegas bertentangan dengan HMI cabang Medan masa itu, ketika di Badko aku sempat membangun koalisi untuk menjatuhkan ketua umum, dan suksesiku menjadi ketua umum Kohati badko Sumut dan Kohati PB. 
Belajar mengambil sikap terhadap isme-isme komisariat dan kampus USU, IAIN, Unimed, UISU, ITM dan swasta lainnya yang selalu timbul di setiap ajang pemilihan ketua umum dan interaksi di kepengurusan. Kebanggan sendiri ketika kawan-kawan tak lagi  memandang aku dari komisariat teknik, tapi dari Kohati...hanya Kohati.
Belajar menaklukkan gengsi belajar dengan yang jauh lebih muda. Berteman akrab dengan orang yang dulunya sempat kuanggap musuh. Belajar untuk terus belajar didalam dunia-dunia trainingnya.

Tak terbayang semua proses pembelajaran itu tanpa aku ber-Kohati. Aku yakin, jika saja aku masuk di HMI cabang, takkan sebanyak itu peluang yang bisa kuperoleh dan kuperbuat. 

Bagi HMI, Kohati memang alat untuk mencapai tujuannya. Namun sebagai kader,  Kohati adalah fasilitas.
Jauh setelah usai ber-Kohati, fasilitas itu masih kunikmati. Keberuntunganku terpilih dalam program IVLP (International Visitor Leadership Program) ke Amerika Serikat di tahun 2014 adalah salah satu fasilitas yang kunikmati pasca ber-Kohati.
Yang paling berharga dan berkelanjutan adalah bertemu dengan kakak-kakak, kawan dan adik-adik yang luar biasa. Perempuan-perempuan yang terbiasa ber-Kohati dan kemudian terus meneruskan perjuangannya di masyarakat melalui berbagai latar belakang profesi.  Dengan keterbatasan waktu dan peran domestiknya tetap berkarya dan berjuang untuk ummat. Dan selalu menyediakan ruang yang lebih lapang untuk berbuat.

Semoga Kohati selalu mengalirkan kader-kader luar biasanya.

Maka keinginanku tahun lalu  yang pernah kucetus untuk mengembalikann Kohati di FT-USU bukanlah sebuah penyakit post power sindrom walau terkesan memprovokasi. Aku hanya ingin berbagi, fasilitas yang kunikmati hingga saat ini. Memberikan ruang berproses yang lebih lapang, lebih nyaman untuk belajar berkarya.

Semoga terkabul.
Selamat ber-RAK HMI Komisariat FT USU
Selamat Milad ke 49 Kohati
Tetaplah jadi rumah yang nyaman untuk belajar.

Tuesday, July 21, 2015

Silaturrahmi Alumni Kohati 2015


Walau sambil ngalor ngidul tetap ada beberapa yang jadi benang merah dari pertemuan silaturrahmi Kohati ini di ule kareng, Medan 20 juli 2015

Untuk para Kader HMI
  1.        Tetap lah semangat ber HMI. Setiap jaman punya tantangan berbeda, tapi perjuangan tetap harus ada. Memang tak semua orang sanggup ber HMI, membagi waktu antara kuliah, organisasi bahkan kadang harus bekerja sambilan. Orang-orang yang di HMI memang melatih diri untuk itu, mungkin tak banyak yang mau bergabung tapi meski sedikit tetaplah menyebarkan virus. Satu menjadi dua, dua menjadi empat, empat menjadi delapan dan seterusnya.
  2.        Kuasai kampus. Rajinlah ke Musholla kampus. Sholatlah disana, jadilah Imam disana.  Isilah dengan kegiatan diskusi ataupun kajian Islam. Sedikit atau banyak pesertanya jangan pernah menyerah. Kuasai Musholla.

Untuk para Alumni
  1. Untuk cabang dan badko, tak banyak yang bisa diperbuat. Perubahan paling nyata dilakukan adalah merubah dari tingkat komisariat. Maka setiap alumni, turunlah ke komisariat masing-masing. Motivasi dan pastikan komisariat tetap aktif dalam menyebarkan syiar Islam di kampusnya. Makmurkan mushola.
  2. Alumni juga perlu menulis, menunjukkan eksistensi HMI di masyarakat umum. 




Tuesday, March 31, 2015

Hak dan Kewajiban Perempuan dalam Islam


Jadilah Istri
yang seperti Kualitas Istri Fir'Aun
Yang bisa menghancurkan kekuasaan yang Dzolim
(Qs 66:11)

Jadilah Ibu,
yang seperti Kualitas Maryam
Yang mampu melahirkan Nabi Isa AS.
(Qs 19: 20-22)

Jadilah Anak
yang seperti Kualitas Nabi Ibrahim
Yang tidak tunduk pada berhala ayahnya
QS 19:41-44 dan Qs 2:170)

Jadilah diri sendiri,
seperti Maryam
Yang terjaga Kehormatannya
(Qs 66:12)

Dan Jika sebatang kara,
janganlah merasa lemah,
Ingatlah Rasulullah Muhammad SAW juga
hanya sebentar menikmati kasih sayang
Orang tua kandungnya.

Berpegang teguhlah hanya kepada Al-Quran dan Sunnah
(Qs 4:59)

disampaikan pada:
LKK Kohati HMI cabang Medan
30 Maret 2015



Tuesday, February 10, 2015

Keluarga Ideal itu....

Ok..kali ini kita bongkar kembali konsep keluarga di Kohati.
Karna kajian tentang keluarga adalah sesuatu yang baru di Kohati (juga bagiku),
membuatku gusar belakangan ini dan sesungguhnya sangat dangkal dikaji di Kohati.

Sebagai organisasi Islam, tidak tepat tentunya jika tidak berdasarkan Al-Quran dan Sunnah Rasulullah dalam menjalankan kehidupan organisasinya.
Jadi..tulisan iseng-iseng serius ini, semoga menjadi pecut untuk melakukan  kajian keluarga berlandaskan Al- Quran di Kohati, dan berhentilah meniru konsep keluarga pada Panca Darma Wanita :(. 
Semoga Kohati lebih serius mengkaji landasan al-Quran jika ingin me"spesialisasi"kan Kohati dalam menguatkan peran perempuan di Keluarga.

Pertanyaan mendasar adalah:

Keluarga yang seperti apakah yang Ideal menurut Al-Quran?

Nah..mari kita simak dari kisah-kisah keluarga dalam Al-Quran.
Kenapa?. Karena kisah-kisah dalam Al-Quran tentunya bukan cuma dongeng (hey...dongeng aja masih dapat diambil pembelajaran didalamnya, apalagi Al-Quran), tapi harusnya dapat menjadi petunjuk/ aturan hidup berkehidupan.

1. Dalam Al-Quran, tokoh perempuan jarang disebutkan namanya. Satu-satunya tokoh perempuan yang memiliki nama dalam Quran adalah Maryam. Dan...mmm...struktur keluarganya amat tidak umum dengan kehidupan umat Islam hingga saat ini. Seorang perempuan yang memiliki anak tanpa lelaki yang menjadi ayah kandung anaknya. Anaknya jadi seorang Nabi pula.
Maryam berkata: "Bagaimana akan ada bagiku seorang anak laki-laki, sedang tidak pernah seorang manusiapun menyentuhku dan aku bukan (pula) seorang pezina!". Jibril berkata: "Demikianlah". Tuhanmu berfirman: "Hal itu adalah mudah bagiku; dan agar dapat Kami menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari kami; dan hal itu adalah suatu perkara yang sudah diputuskan".Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh.(Qs 19:20-22)

2. Konon, Keluarga yang ideal adalah keluarga Nabi Ibrahim AS.
Ketika beliau berperan sebagai Anak, Nabi Ibrahim  "melawan" orangtuanya.
Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi. ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya; "Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun?. Wahai bapakku, Sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, Maka ikutilah Aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus.(Qs 19:41-44)

Ketika telah dewasa, Nabi Ibrahim memiliki beberapa istri bernama Sara dan Hajar yang  melahirkan anak bernama Ismail dan Ishak. Keduanya tidak begitu akur, pernah kejadian salah satunya pergi berlari-lari antara dua bukit demi seteguk air di tengah gurun. (ups...maaf, setelah di obok2 kisah ini tak ada di  Al-Quran tapi adanya di Injil, Surat Kejadian 16)

Setelah menjadi Ayah, Nabi Ibrahim pun menyembelih anaknya. Jika ayah menyembelih anaknya dijaman sekarang, pastilah sudah dikecam dari segala penjuru. Takkan ada yang berani melakukan hal ini di zaman sekarang, meski telah dicontohkan Nabi.
Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar". (QS 32-102)


3. Kisah Nabi Nuh, dimana anak-anaknya ingkar dan tidak mau mengikuti ajaran Allah.

dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya anakku Termasuk keluargaku, dan Sesungguhnya janji Engkau Itulah yang benar. dan Engkau adalah hakim yang seadil-adilnya."Allah berfirman: "Hai Nuh, Sesungguhnya Dia bukanlah Termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), Sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik. sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui (hakekat)nya. Sesungguhnya aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan Termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan." (Hud: 45:46)

4. Kisah Nabi Muhammad SAW. Kisah kehidupannya, tidak mendapat kasih sayang ayahnya Abdullah yang meninggal sejak dalam kandungan. Sedangkann ibunya juga meninggal ketika beliau masih anak-anak.
Pada fase sebagai suami, kisah Nabi Muhammad awalnya memiliki satu istri, Khadijah dan setelahnya memiliki lebih dari empat istri.

5. Keluarga Imran

نَّاللَّهَاصْطَفَىآَدَمَوَنُوحًاوَآَلَإِبْرَاهِيمَوَآَلَعِمْرَانَعَلَىالْعَالَمِينَ
Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing)” (Qs. Ali Imron: 33)
Di dalam ayat ini, Allah memilih di atas segala umat dua Nabi: Adam dan Nuh, serta dua keluarga: Keluarga Ibrahim dan Keluarga Imron.

***

Kisah-kisah kehidupan keluarga yang disebut dalam Al-Quran ini menarik karena ternyata dalam proses kehidupan berkeluarga, kualitas pengajaran Ibu dan Ayah  bukan faktor yang menentukan karakter anak agar memiliki kualtias seperti Ibu dan Ayahnya.
Lihatlah kisah Nabi Ibrahim yang berani melawan agama yang dianut orang tuanya. Bacalah kisah anak nabi Nuh, yang tak serta-merta mengikuti ajaran yang disampaikan sang Ayah. Dan Nabi Muhammad SAW sendiri besar sebagai anak yatim piatu, yang hanya mengecap sedikit kehidupan bersama orangtuanya.


Contoh-contoh kisah kehidupan para Nabi ini menunjukkan, bahwa peran orangtua meski ada/tidak dinafikkan dikisahkan pada nabi lainnya, namun faktor Anak dalam jalan kebenaran, berada dalam kendali si anak itu sendiri. Meski si anak lahir dalam keluarga yang menyembah berhala, namun dia akan mendapatkan jalan menuju ajaran Allah selama dia memang mau berfikir dan mencari. Sebaliknya meski si Anak berayahkan seorang Nabi namun bisa juga termasuk kaum kafir.

Jadi, jika kamu adalah anak dari keluarga yang broken home, jangan cengeng deh. Dunia tak serta merta hancur karena orangtuamu tak perduli.

Jadi, jika kamu tipe (orangtua) yang berharap pendidikan sang anak agar mencapai jalan yang benar, belajarlah bagimana proses para nabi dan rasul bisa mendapatkan ajaran Allah. Mencontoh ke orang tua, bisa jadi baik, tapi belum tentu benar. Tapi mencontoh pada rasulullah, pastilah benar.

So....
Kamu mau mencontoh kehidupan yang mana?
Keluarga Maryam yang tidak punya ayah bagi anaknya?
Ibrahim muda yang berani melawan keyakinan orangtuanya.
Ibrahim yang tega menyembelih anaknya.
Nuh yang anaknya tetap dalam kekafiran
atau Muhammad?

***
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.(Qs Al Ahzab: 21)




Sunday, December 28, 2014

Max Havelar full Movie

https://www.youtube.com/watch?v=teDbp-QsjGI

Tuesday, December 09, 2014

Kritik terhadap Platform Gerakan Kohati, PDK hasil Munaskoh ke-21 tahun 2013

Tadinya aku tak ambil pusing ketika adik-adik Kohati cabang Kisaran memintaku menjadi salah satu narasumber di Latihan Khusus Kohati yang diadakan di Kisaran 29 nov 2014. Materi bertema Kohati dan kiprahnya di pergerakan perempuan, memang materi yang sering kusampaikan di setiap LKK maupun diskusi-diskusi di Kohati.

Segala kesibukanku harus ku rem, sehari menjelang keberangkatan. Dan mulai mengutak-atik presentasi untuk persiapan di Kisaran. Kubukalah PDK yang terbaru, yang baru saja kudapat dari pengurus Kohati Badko Sumut, hasil dari Munaskoh ke-21 yang diadakan di Jakarta tahun 2013. Dan aku terkejut dengan perubahan yang sangat signifikan dalam pedoman dasar Kohati kali ini.

Entah hal ini disadari oleh kawan-kawan pengurus sekarang, karena masih banyak peserta LKK cabang Kisaran tersebut yang masih menggunakan PDK edisi kongres sebelumnya yaitu Munaskoh 2010. Yang jelas, instruktur yang mendampingiku kebetulan Ketua bidang eksternal Kohati badko Sumut, menyatakan tidak ada sosialisasi yang cukup mengenai perubahan PDK ini, dari tingkat PB ke lapisan paling bawah: Komisariat.

Apa saja perubahan signifikan tersebut?
berikut cuplikan presentasiku:
Skema Analisis Tujuan Kohati

Analisis tujuan Kohati di masa ku jadi pengurus adalah hasil Munaskoh ke-17 tahun 2004. Skema ini tidak banyak perubahan pada PDK tahun-tahun berikutnya hingga kemudian berubah total pada hasil munaskoh terakhir: Munaskoh ke-21 tahun 2013.

Perhatikan skema Munaskoh ke -17, pada skema tersebut, dapat dilihat irisan keberadaan tujuan Kohati, merupakan bagian dari Anggota HMI. Dimana sifat, statu fungsi dan peran bertujuan sama dengan tujuan HMI yaitu Insan Cita yang dirinci pada pasal 5 AD HMI.  Dalam proses pencapaian tujuan tersebut Kohati mencapainya melalui Pelatihan, kursus, kegiatan pribadi dan kelompok, yang di dalam HMI, dijabarkan sebagai proses PERKADERAN.
Jadi dari skema Munaskoh ke-17, Kohati menyatakan komitmen bahwa proses ber-Kohati merupakan salah satu proses dalam mencapai Tujuan HMI.

Baiklah...selanjutnya mari kita lihat skema hasil Munasko ke 21 tahun 2013. Saya akan analisa sesusai sudut pandang saya membaca. Dimana saya adalah orang luar yang tidak terlibat dalam proses perumusan skema ini sama sekali, sebagaimana 90% kader Kohati yang jadi pengurus saat ini, juga tidak terlibat dalam perumusan tersebut. Bisa dikatakan, hampir seluruh pengurus yang merumuskan PDK tersebut pada Munaskoh tahun 2013 telah lengser dari kepengurusan. Kalaupun ada, tersisa di sebagian pengurus PB dan Badko.

Pertama,
Dimana letak tujuan HMI?.

Pertanyaan yang timbul dari skema ini adalah:
Kenapa Garis Putus-putus yang diperoleh dalam  proses peningkatan Kohati (kualitas/peran) mencapai tujuan HMI?. 
Garis putus-putus ini menunjukkan tujuan Kohati yang bergeser dari tujuan HMI. terkesan, tidak langsung. 

Kedua, 
Dimana konsistensi istilah perempuan. Mengapa jadi Kewanitaan?
Untuk melihat keanehan dari skema ini, bukalah Landasan Gerakan yang masih belum berubah pada PDK yang sama dengan skema ini: 
dapat dilihat bahwa antara skema Analisa tujuan Kohati dan Landasan Gerakan adalah INKONSISTEN.


Ketiga
Siapa Putri, Istri, Ibu?

Kenapa tiba-tiba muncul istilah Putri, Istri, Ibu dalam proses peningkatan (pada garis putus2 belum mencapai tujuan HMI)
Sementara anggota Kohati adalah Mahasiswa, yang amat sangat sedikit telah menjadi ISTRI dan IBU.
coba cerna skema tersebut: Kohati meningkatkan peranan sebagai Istri dan  Ibu....>>> disaat kohati belum berproses menjadi Istri dan Ibu?.
Sama artinya dengan:  mengajarkan bagaimana peranan Istri dan Ibu saat, anda masih lajang....
Well...  peranan ini saya katakan: TIDAK APLIKATIF!, tak bisa diterapkan. 
sedangkan...siapa anggota Kohati dijelaskan: 
jika skema tujuan Kohati seperti diatas, maka dapat dimaknai bahwa Mahasiswi dalam ber-Kohati, didorong untuk SEKALIGUS berperan menjadi Istri dan Ibu...DISAAT anda berstatus MAHASISWI. 


Darimana sumber istilah-istilah baru  dan Inkonsisten dalam PDK produk tahun 2013 ini?
Sebenarnya istilah Perempuan sebagai Putri, Istri, Ibu dan Anggota masyarakat, bukanlah istilah baru dalam Sejarah Gerakan Perempuan.  Dengan pendekatan sejarah, dapat dilihat, dimana sumber munculnya istilah ini.

Silahkan search di Google, dengan kata kunci : Gerakan Perempuan putri istri dan ibu
salah satu hasil yang ilmiah tentang munculnya istilah ini dalam dialektika wacana perempuan di Indonesia dapat dilihat dalam Jurnal berikut:



Ternyata istilah itu menjadi jargon politik Era Orde baru. Merupakan kebijakan yang diciptakan untuk mengendalikan gerakan perempuan oleh Negara melalui PKK dan Darma Wanita yang diciptakan di era tahun 70an. 
Silahkan bukan PDK dari sejak era tahun 70-an, tidak ditemukan wacana orde baru ini. 
wacana yang muncul PDK sebelumnya adalah isu yang sama dengan isu feminis di Internasional (lingkaran merah pada gambar dibawah)
Adalah aneh, ketika wacana orde baru ini JUSTRU muncul di era tahun 2013. 



Tentunya saya tidak menolak kemungkinan adanya niat luhur yang ingin menguatkan peran perempuan sebagai Istri dan Ibu. Tapi saya sarankan, lebih tepat letakkan pada organisasi para Istri dan Ibu, bukan organisasi Mahasiswi. 
Kecuali...Kohati ingin diarahkan menjadi Organisasi para Istri dan Ibu-ibu.

Juga....
jika ingin tetap menguatkan peranan Istri dan Ibu...perkuatlah dengan landasan teologis. dimana HMI dan Kohati sebagai organisasi Islam selalu mengacu kepada Al-Quran dan Sunnah dalam setiap aktifitas organisasinya. Ayat-ayat yang digunakan dalam landasan Geraka Kohati...masih menggunakan landasan Gerakan yang menguatkan wacana Feminis yang ada pada platform gerakan perempuan HMI pada PDK-PDK sebelum 2013.

KESIMPULAN:
Hal penting yang ingin saya tekankan dalam tulisan ini adalah:
Setiap kebijakan harusnya ada Sosialisasi terhadap perubahan yang terjadi. 
PDK hasil Munaskoh ke-tahun 2013 ini benar-benar memiliki perubahan yang signifikan dan mendasar. 

Bagaiman mungkin menjalankan sebuah kebijakan yang tidak dipahami?


MAKA mintalah tanggung jawab para perumus kebijakan ini!. 

Jika berbagai literatur sejarah Gerakan Perempuan Indonesia menyatakan era Orde Baru adalah sebuah kemunduran/kemadegan gerakan, maka era tersebut sedang diadaptasi oleh Kohati saat ini. 
******

Saya ingat, Munaskoh ini berjalan berbulan-bulan karena termasuk penyelenggaraan kongres terlama dalam sejarah HMI berdiri. 
Namun...melihat kualitas hasil munaskoh ini....aiih....la terkataken...






Sunday, September 14, 2014

Memahami dengan gambar

Site dibawah ini menarik.
Pembelajaran melalui gambar, lebih sederhana, mudah dicerna.
Apalagi untuk budaya yang malas membaca.
Gambar-gambar seperti ini perlu diperbanyak.


http://www.boredpanda.com/we-have-a-voice-a-handwritten-and-illustrated-story-dedicated-to-girl-empowerment/?commentUpdated








Wednesday, August 13, 2014

Jilboobs, pergeseran makna Jilbab di Indonesia (2)

Pada masa dibangku perkuliahan, tahun 2000an, aktifitas selain kuliah tempat yang paling kusukai adalah Mushola. Di bangunan teduh berteras lebar itu, banyak bersileweran berbagai aliran Islam membuka wacana diskusi tentang pemahamannya masing-masing.
Uniknya, setiap aliran memberikan penanda dengan cara berpakaiannya. Yang cukup jelas terlihat adalah pada pakaian perempuannya dalam menggunakan jilbab.
Untuk memudahkannya, saya bagi kelompok jenis pemakaian jilbab berdasarkan dua tipe ideologi yang membuat mereka berjilbab:

1. Tipe Berjilbab sebagai Aktifis Muslimah
Tipe ini, berjilbab karena didorong oleh aliran pemahaman dimana aktifitas sosialnya berada.Uniknya tipe aliran pemahaman Islam berbeda dalam berjilbab. Kelompok ini terdiri dari beberapa aliran yaitu:

  • Aliran Salafi, kaum perempuannya memakai jilbab besar. Besarnya hingga pergelangan tangannya hampir tertutup. Warna pakaiannya hampir satu warna, dan bernuansa gelap, seperti biru tua, hitam, coklat tua. Pakaiannya satu kesatuan, yang sering disebut dengan istilah jubah. Kelompok yang lebih konservatif lagi, malah menggunakan penutup bagian mulut atau dikenal dengan istilah cadar. Memakai kaos kaki, sama wajibnya dengan kerudungnya. 
  • Kelompok Aliran tarbiyah, biasanya tergabung di KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) atau PKS (Partai Keadilan Sejahtera). Pakaiannya lebih berwarna. Jilbabnya cukup besar, namun tak sepanjang aliran salafi. Biasanya hanya menutupi sampai siku lengan. Kelompok ini, suka juga memakai jubah, tapi ada juga yang memakai beberapa potong pakaian, yang terdiri dari jilbab, baju yang panjangnya menutupi pinggul, dan rok panjang. Mereka tak pernah menggunakan celana sebagai pakaian bagian terluarnya. Memakai kaos kaki, sama wajibnya dengan kerudungnya. 
  • Kelompok Aliran Hizbut Tahrir. Cara berpakaian kaum perempuannya mirip dengan tarbiyah.Juga lebih berwarna daripada kelompok Salafi. Jilbab besar yang menutupi siku atau sampai pergelangan tangan. Ciri khasnya, adalah Jubah. Bagi kelompok ini, jubah tersebutlah yang disebut jilbab. Sedangkan kain di bagian kepala disebut dengan khimar. 
  • Aliran lain-lain. Kelompok ini, paling banyak. Merupakan kelompok yang diluar dari kelompok yang sudah kuurai diatas. Jika bergabung dalam organisasi, mereka ada di HMI dan IMM. Jilbabnya tak sebesar aliran tarbiyah. Cukup menutupi bagian bahu dan bagian dada. Paduannya menggunakan Rok, atau celana yang longgar. Terkadang memakai kaos kaki, terkadang juga tidak. Di kelompok ini juga terdapat hijaber ataupun jilboobs bahkan tidak berjilbab. Karena kelompok ini tidak membakukan bentuk pakaiannya, maka beragamnya jenis pakaian di kelompok ini dianggap lumrah atau juga proses pencarian, melatih diri. 
  • Aliran Liberal. Kelompok ini tidak menggunakan kain penutup kepala karena telah melalui proses mencoba memahami ajaran Islam. Jadi berbeda dengan masyarakat umum yang belum berjilbab. Kelompok ini malah melepas jilbabnya. Biasanya kelompok ini tidak menggunakan jilbab karena menurut pemahamannya kain penutup kepala tersebut adalah budaya dari Arab bukan berasal dari Islam. 


2. Tipe berjilbab demi trend fashion. 
Nah di era tahun 2000an ini, jilboobs sudah ada. Jilbab, melilit kepala dan leher saja. Berbaju ketat, dan celana ketat. Biasanya yang berpakaian seperti ini akan jadi bahan bisik-bisik tak sedap. Tentu saja terkesan memperolok-olok Islam. Tapi jenis seperti ini kemudian semakin banyak juga, dengan semakin dipopulerkannya jilbab oleh selebritis dan fashion desainer di Indonesia.

Kelompok ini kemudian mencoba memadukan Fashion dengan nilai-nilai yang diperjuangkan kelompok aktifis, tapi tetap mengedepankan kemodisan, indah, menarik, sebagai tujuan dari fashion itu sendiri. Maka lahirlah kelompok Hijabers. Kelompok ini membuat Jilbab tak terlihat membosankan dengan gaya yang itu-itu saja. Jilbab dipadukan dengan seni kreatifitas. Aku yakin kelompok ini membuat bisnis garmen menjadi lebih semangat lagi mencetak jenis-jenis jilbab dan berbagai asesorisnya dan sangat mudah didapatkan.

bersambung...:)

tulisan sebelumnya:
Jilboobs, pergeseran makna Jilbab di Indonesia (1)

Tuesday, August 12, 2014

Jilboobs, pergeseran makna Jilbab di Indonesia (1)

Jilbab, di Indonesia dikenal sebagai sejenis kain kerudung yang menutupi kepala.
Berbeda dengan kerudung, yang digunakan oleh ibu-ibu pengajian di era sebelum kemerdekaannya, Jilbab dimaknai sebagai kerudung yang lebih tertutup, terutama menutupi bagian leher, dan seluruh rambut.

Dulunya, ketika awal Indonesia merdeka, Jilbab tidak sepopuler sekarang. Jilbab hanya terbatas digunakan disekolah agama, dan bukannya di sekolah umum. Jilbab juga jarang ditemukan di keseharian, sekalipun di komunitas mayoritas Islam.

Sekarang Jilbab adalah trend. Sekolah-sekolah umum sudah biasa ditemukan orang-orang yang menggunakan Jilbab. Di perkantoran juga bukan hal yang aneh lagi.

Aku berada di era dimana perubahan pakaian jilbab ini masuk melalui sekolah-sekolah formal umum di Indonesia. Masa itu, adalah masa orde baru dimana kebebasan berekspresi sangat terbatas. Perjuangan orang-orang yang kemudian berhasil merubah pakaian di sekolah formal tentu saja tidak terjadi begitu saja. Tahun itu terjadi disekitar tahun 1990an.

Tepat masuk Sekolah Menengah Atas (Umum), aku dipaksa menggunakan jilbab di sekolah. Padahal dilingkungan sekolah kami, Islam termasuk minoritas. Sejujurnya, aku saat itu tidak suka berjilbab. Menurutku saat itu, orang berjilbab adalah orang yang sok suci, dan sok paham agama. Tapi karena tegasnya guru agama di sekolahku, kami pun terpaksa mengeluarkan biaya lebih untuk membeli seragam baru dan berjilbab ke sekolah. Kadang-kadang kami diejek dengan sebutan "ninja". Kalau saja tidak ada kewajiban dari sekolah, sudah kulepas saja kain itu.

Perlahan, dari masuk jilbab melalui sistem pendidikan. Pemakaian jilbab semakin meluas, dan pemakainya tak terlihat lagi sebagai "mahluk aneh".

Ketika masuk di dunia perkuliahan, tahun 2000an, dalam sebuah literatur politik populer yang kubaca, Jilbab malah dianggap simbol modernitas Islam di Indonesia. Menurut buku itu, Istilah Modern pada konteks jilbab, tidak mengacu kepada perkembangan sains di eropa, tapi modern yang mengacu kepada kembalinya umat Islam menerapkan Al-Quran dalam kesehariannya.

Ya...penggunaan Jilbab sebenarnya cukup jelas perintah didalam Al-Quran.
(Akan kutuliskan lebih detail lagi tentang ini di tulisan berikutnya).




Perkembangan positif umat Islam dalam berbusana, tentu tak sepenuhnya sempurna.
Ada yang menganggap berjilbab adalah tahap yang terlalu suci, sehingga merasa belum pantas menggunakannya.
Ada yang menggunakan Jilbab sebagai identitas Islam, sebagai persaksian kepada sekitarnya bahwa seseorang ingin meningkatkan kualitas ke Islamannya.
Ada juga yang menggunakan Jilbab sekedar fashion, trend busana.
Ada yang mengecilkan makna Jilbab, sebagai selembar kain dikepala, tanpa perlu menyesuaikan pakaiannnya yang ketat dan tingkah laku yang sesuai.
Yang terakhir ini, kemudian diplesetkan dan ipopulerkan dengan istilah "Jilboobs".
Boobs berasal dari bahasa inggris yang berarti dada. Jilboobs berarti menggunakan jilbab, tapi tetap menonjolkan lekuk tubuhnya. Tentu saja tak sesuai dengan syariah Islam.
Menurutku ini bukan sebuah degradasi, tapi tindak laku  yang didasari oleh tingkat pemahaman.

Maka...ketika Jilboobs begitu populer, maka sebaiknya perlu juga mengkampanyekan lebih gencar pula, mengenai defenisi Jilbab yang sesuai dengan Al-Quran.

Yang menarik adalah, jika mengacu pada Al-Quran tentang perintah berjilbab, maka penggunaan istilah Jilbab untuk kain kerudung sebenarnya tidak lah tepat.

Ada beberapa pemahaman yang beragam tentang makna Jilbab dalam berbagai aliran Islam di Indonesia. Meski istilahnya sama: Jilbab, tapi pada teknis pemakaiannya berbeda.
Teknis pemakaian ini, ada yang didasari oleh pemahaman terhadap ayat Al-Quran yang berbeda pula.


(bersambung)
Jilboobs, pergeseran makna Jilbab di Indonesia (2)

Tuesday, July 15, 2014

Berbagi kebahagiaan di bulan Ramadhan bersama Forhati Medan

Masih teringat rasanya tahun lalu, kami pontang panting mengadakan kegiatan Ramadhan di sekretariat HMI cabang Medan. Tahun lalu bertema beauty of charity, Forhati Medan mengadakan lomba-lomba kepada anak-anak di sekitar sekretariat yang umumya di kelas ekonomi menengah ke bawah, kepada Ibu-ibu forhati mengadakan pelatihan lifeskill, dan belajar berhijab yang modis.

 Mushola Al-Huda, Desa Sei Beraskata, Sei Mencirim

Ramadhan tahun 2014 ini, Forhati Medan kembali melakukan kegiatan sosial ke masyarakat. Tahun ini, Forhati Medan melaksanakan kegiatan dalam bentuk memberikan bantuan sosial ke masyarakat. Melalui informasi dari sebuah lembaga sosial yang digeluti oleh seorang alumni Kohati juga, ditemukanlah sebuah Mushola di pinggir kota Medan. Tepatnya di Sei Beraskata, Sri Gunting, Sei Mencirim, kabupaten Deliserdang. Desa ini memang terletak di perbatasan Medan dan kabupaten Deli Serdang, tepatnya di seberang sungai Sunggal. Karenanya tidak begitu jauh dicapai.

Mushola ini awalnya didirikan dengan fungsi sebagai Mesjid. Menampung ibadah masyarakat sekitarnya yang saat itu mencapai 200 kepala keluarga. Umumnya mereka bersuku Karo, dan muallaf (baru memeluk agama Islam).
Belakangan jumlahnya menyusut, banyak yang kembali berpindah agama. Yang tadinya Mesjid, ramai saat sholat Jumat, akhirnya malah sepi, dan sempat terlantar tak digunakan. Saat kunjungan dari Forhati Medan, Mesjid Al-Huda berubah menjadi Mushola Al-Huda karena tidak ada sholat jumat disana, dan masyarakatnya tersisa hanya berkisar 50 kepala keluarga saja.

Infak masyarakat. Umumnya petani. Meski miskin mereka tetap berinfak. 

Keadaan bangunannya cukup menyedihkan. Bangunan tersebut, tanpa plafond dan pintu yang sudah rusak, namun tetap bersih. Ada seorang Ustadz yang merawat mushola ini bersama masyarakat kampung tersebut.


Kondisi fasilitas Kamar Mandi

Alhamdulillah, setelah sibuk bergerilya, melalui sms dan media sosial, terkumpul peralatan sholat, Al-quran, pakaian layak pakai, jilbab dan lain-lain yang diserahkan langsung kepada masyarakat pada hari Minggu, 13 Juli 2014 yang lalu. Salut buat kerja keras penuh semangat kak Yenny Susanti dan Sulfia Dewi Rambe yang meng'halo-halo'kan ke seantero alumni untuk berpartisipasi. Meskipun kak Yeni harus meninggalkan pekerjaannya di Kisaran-Asahan, dan Kak Sulfia Dewi Rambe di tengah-tengah aktifitasnya sebagai dokter gigi dan aktifis PDGI yang super sibuk juga.
Pada hari H, berkumpul juga akhirnya para Forhati yang didominasi ibu Muda penuh semangat. Cut Alma, Hafni Zulaikha, Arofah Megasari Siregar, Vita Wahyuni. Terimakasih juga kepada kak Amelia yang mengarahkan bantuan Forhati Medan ke Mushola ini.


Masyarakat kampung terlihat bahagia saat menerima bantuan. Ambal sholat yang baru diserahkan, segera mereka gulung, takut kotor oleh debu. Semoga peralatan sholat untuk mesjid itu dimanfaatkan dengan baik, dan dirawat dengan baik pula.

Jalan menuju Mushola Al-Huda

Usai kegiatan di Mushola Al-Huda, Forhati Medan melanjukan acara berbuka puasa di Mie Aceh Titi Bobrok. Sayang sekali, ada yang tak bisa berkumpul sampai selesai. Aku pun baru bergabung di acara buka bersama ini, karena seharian sibuk rapat penting di organisasi lainnya. Bergabung juga Ningsih Pardosi, dan Wandina Zuhira. Sembari bercerita pengalaman hari itu, kami merancang kegiatan berikutnya. Serius tapi santai. Owh...tak terasa, ternyata kepengurusan ini akan berakhir di  2015.


Alhamdulillah, tahun ini Forhati Medan masih bisa melaksanakan kegiatannya. Selanjutnya, masih dibulan Ramadhan ini, Forhati Medan mengadakan penggalangan dana untuk Palestina, melalui Mer-C, Forhati Medan akan berpartisipasi dalam gerakan wakaf ruang operasi di Rumah Sakit Indonesia di Gaza. Kepada kawan-kawan yang ingin bergabung, silahkan mengirim bantuan ke rekening: Mandiri 106-00-0997544-5 an. drg. Sufia Dewi Rambe.
Akan lebih baik, konfiramasi setelah transfer ya.

Dari kegiatan ini, Forhati Medan tetap akan membuka diri menerima bantuan pakaian layak pakai, buku-buku dan peralatan sholat. Kita akan tetap mengadakan pengumpulan bantuan. Bantuan yang terkumpul akan kita jual kembali melalui Garage Sale, dan dana yang terkumpul akan kita alokasikan untuk kegiatan-kegiatan sosial yang lebih banyak lagi.

Mohon didukung ya kawan-kawan.
Yang alumni Kohati, jangan malu-malu untuk bergabung
Tetap semangat
Fastabiqul Khairat...

Friday, July 11, 2014

PI-LKK : Melawan Tradisi Perkaderan (2)

Menjadi Instruktur dalam 2 hari. Jujur saja, bagiku sangat tidak mungkin. Ku yakin calon peserta pun, merasakan yang sama. Namun tetap saja mereka tergerak mengikuti, penasaran. Pada saat orientasi, kusampaikan gambaran training ini secara keseluruhan, dan ternyata semua sepakat mengikuti tahap berikutnya, sehingga selesai mengikuti seluruh proses PI-LKK.

Menjadi Instruktur tidak cukup hanya melalui proses 2 hari karena untuk menjadi instruktur tidak hanya membutuhkan wawasan dengan level yang lebih tinggi dari calon peserta didiknya, tapi juga memiliki ketrampilan yang cukup. Skill ini lah yang membuatnya berbeda, dan tidak bisa didapatkan secara kilat. Ala bisa karna biasa. Ketrampilan seperti juga di profesi lain seperti Dokter, Arsitek dan Guru, harus DIPRAKTEKKAN dahulu.

Mendesain PI-LKK memang cukup menantang.
Menaklukkan keterbatasan waktu mengelola yang sudah tidak seperti masa pengurus dulu. Menyusun konsep pelatihan kepada sumber daya manusia yang belum pernah mengecap senior course.

Sebelum PI-LKK, ada pelatihan sejenis yang belum kukisah kan juga yaitu Diklat Instruktur Kohati. dilakukan di tahun 2010 dengan syarat peserta adalah telah mengikuti Senior Course. Dari Diklat ini lahir 4 orang instruktur Kohati yaitu: Siti Zahara (Medan), Royyan Ashri (Medan), Husni Laili (Medan), Dewi Puspitasari (Binjai).  Dan satu peserta yang tidak mengikuti proses sampai selesai yaitu Mariyatul Qibtiyah (Medan).

Pada Diklat Instruktur Kohati 2010, prosesnya tidak begitu berat, karena skill peserta juga sudah cukup diboboti melalui Senior Course yang sudah mereka lalui, dan proses magang training yang diwajibkan dalam Senior Course. Diklat Instruktur Kohati 2010 ini menjadi dasar penting lahirnya Modul LKK Kohati badko Sumut, yang menjadi acuan pelaksanaan PI- LKK dan PI- Kohati selanjutnya. Kemampuan dasar yang sejak awal dimiliki peserta membantu dalam menganalisa setiap metode training yang ada, masukan-masukan dalam pendalaman materi dalam LKK selanjutnya terutama dokumentasi dasar untuk pelatihan Instruktur Kohati selanjutnya.

Diklat Instruktur Kohati adalah generasi pertama training Insruktur yang difokuskan khusus untuk pelatihan-pelatihan di Kohati.
Hasil diklat inilah yang kemudian dirapikan menjadi modul LKK, yang dirangkum dalam buku yang berjudul "Lika-liku LKK". 
Buku ini menjadi acuan dasar untuk pengelolaan LKK yang disampaikan dalam PI-LKK maupun PI-Kohati.

Karena sudah punya dasar yang cukup, maka tantangan konsep dasar sudah ditaklukkan. Selanjutnya adalah mempersiapkan kader yang belum paham training menjadi paham LKK dan mampu mengelola training keperempuanan.

Ada lima peserta, yang menjadi generasi kedua, pelatihan Instruktur Kohati. Yaitu: Dia Ramayana (Medan), Rizky Ameliya (Medan), Maghfira Rafi'ah (Medan), Reni Mulfiani (Kisaran), dan Nurhandayani (Medan). PI-LKK ini melahirkan 4 Instruktur Kohati, dari 5 orang peserta.
Nurhandayani tidak mengikuti proses sampai selesai.


Bagaimana menempa mereka agar mampu mengelola training secara mandiri. Maka didesainlah pelatihan memenuhi kebutuhan wawasan pelatihan, dan menempa mereka dalam praktek, dan magang, serta mendesain training non formal Kohati.

Pelaksanaan PI-LKK dilangsungkan setiap Sabtu dan Minggu. terdiri dari 4 tahapan yaitu:

TAHAP 1
Adalah tahap dasar pembobotan wawasan tentang LKK.
Materi dalam tahapan ini, menjadi dasar aktifitas pada tahap berikutnya, Uraian materi tersebut yaitu:

  1. Orientasi
  2. Analisis Perkaderan Kohati
  3. Mengenal BPL (Badan Pengelola Latihan)
  4. Konsep Pendidikan
  5. Teknik Memfasilitasi
  6. Bedah LKK
  7. Kode Etik Instruktur
  8. Membuat Alur Pembelajaran


TAHAP 2
Adalah tahap praktek menyampaikan materi-materi yang ada di LKK. Setiap peserta harus memilih satu tema materi yang dikuasainya dan di praktekkan.
Rentang waktu antara tahap I dan tahap 2 memberikan peluang untuk mempersiapkan bahan yang matang dalam penyusunan materi.
Seperti juga yang dihasilkan dalam Diklat Kohati, PI LKK menghasilkan modul-modul materi LKK yang dapat menjadi acuan awal dalam menyampaikan dan mengelola materi-materi LKK.


TAHAP 3.
Adalah tahap magang. Yaitu proses mengamati dan mencoba (didampingi oleh instruktur) secara langsung proses training LKK. Ini adalah proses terlama dalam PI-LKK mapun PI Kohati. Karena tidak semua peserta memiliki kesempatan waktu untuk mengelola LKK. Syarat tahap magang ini adalah, mengikuti dan mengelola (didampingi oleh instruktur) TIGA buah training LKK/Training Formal Kohati. Langkanya pelaksanaan LKK, menjadi kendala.
Dalam PI-LKK terdapat 3 pelaksanaan training yang dilalui oleh Peserta yaitu:

  •  LKK Kohati HMI Cabang Padang Sidimpuan
  • LKK  Kohati HMI cabang Medan
  • LKSG* Kohati HMI cabang Kisaran-Asahan


TAHAP 4
Adalah tahap Evaluasi. Penilaian seluruh proses pelatihan yang diikuti, dan pernyataan kelulusan. Tahap ini juga melakukan revisi terhadap modul-modul pelatihan Kohati yang telah dijalankan.

Kelemahan peserta yang belum mengikuti Senior Course coba disiasati dengan pendampingan yang serius dalam Tahap 2 dan tahap 3 yaitu pada saat praktek dan Magang.
Berbeda dengan Diklat LKK yang butuh praktek saja, dan dianggap siap tempur di LKK, maka pada PI-LKK peserta harus melewati proses magang di berbagai training Kohati.
Syaratnya minimal 3 training Kohati.

Ini seperti metode yang dilakukan dalam Senior Course juga. Namun periodesasinya dibalik. Jika dalam Senior Course, magang dilakukan setelah SC selesai, maka pada PI LKK, sebaliknya. Magang adalah proses PI-LKK itu sendiri. Ini untuk menjamin peserta tidak lepas begitu saja karena merasa training sudah usai.

Keseluruhan proses PI-LKK memakan waktu Enam bulan sejak dilaksanakan hingga pengumuman kelulusan.
Beda bukan...dengan senior course yang butuh 6 hari training (maksimal)??.
***

Dengan segala kerja keras, dan kerjasama berbagai pihak dan HMI cabang sekawasan Sumatera Utara, hingga tulisan ini diturunkan, yang telah mampu mengelola LKK sebagai MOT adalah Maghifira Rafi'ah, melanjutkan studi ke jawa dan menjadi pengurus Kohati PB HMI.

Rizky Emiliya kemudian terpilih menjadi Ketua Kohati Badko Sumut, dan mempromosikan perkaderan Kohati. Ia kemudian merevisi PI-LKK menjadi PI-Kohati yang akan kukisahkan pada tulisan selanjutnya. Tak disangka, kisah PI-LKK kemudian disambut ambisius oleh lebih banyak kohati selanjutnya.

Dia Ramayana melanjutkan studi ke Jawa dan menjadi pengurus Kohati PB HMI.
Reni Mulfiani masih di Kisara Asahan, dan membantu perkaderan Kohati disana.
Nurhandayani menjadi pengurus Kohati Badko HMI, masih sibuk dengan dirinya sendiri.

***
Apapun aktifitas pilihan mereka, tugasku sudah kutunaikan, bibit perubahan sudah kusemaikan. Kini mereka sudah menyebar dan menebar.
Takkan ada yang sia-sia. Sepanjang hidup tetap terus berusaha, menjadi lebih baik.

Semoga amanah adinda...


------

* LKSG = Latihan Kader Sensitif Gender. 

Baca disini : PI-LKK : Melawan Tradisi Perkaderan (1)
Jejak Kohatiku